Indonesia super sibuk menyambut kedatangan Obama. Lebih sibuk dari evakuasi korban Merapi dan tsunami Mentawai. Sebagai Tuan rumah, kedatangan Tuan dari negara adidaya harus disambut dengan sempurna. Apalagi, kunjungan kali ini adalah yang ketiga kalinya setelah rencana pertama dan kedua gagal.
Obama tentu mempunyai kesan tersendiri dengan Indonesia. Masa kecil yang pernah dihabiskan di Jakarta membuat Obama tak mampu melepaskan Indonesia dari sejarah hidupnya. Makanan bakso kesukaannya menjadi diplomasi kultural bahwa Obama tidak bisa melepaskan aroma Indonesia. Belum lagi adiknya –Maya Suntoro- juga keturunan Indonesia. Obama juga pernah mempunyai ayah tiri dari Indonesia.
Kedatangan Obama tidak sekedar nostalgia dengan Indonesia. Sebagai penduduk Muslim terbesar, Indonesia menjadi lahan strategis untuk mengkampanyekan barat yang ’damai’ dan ’bersahabat’ terhadap Islam. Sikap Indonesia akan menjadi kiblat negara-negara Muslim lainnya. Cap memusuhi Islam dengan agresinya di Afghanistan, Irak dan dukungannya terhadap Israel di Palestina serta berbagai kejahatan atas nama perang melawan terorisme perlahan-lahan harus dihapus dari memori kaum Muslimin.
Obama ingin menunjukkan bahwa ia berbeda dengan pendahulunya George Bush. Jika kebijakan Bush di bangun atas pondasi superioritas dan kebencian. Obama ingin menegaskan bahwa kebijakannya terhadap Islam dibangun atas dasar kasih sayang dan kedamaian. Jika Bush membangun kebijakan dengan menjadikan Islam sebagai ancaman terbesar setelah runtuhnya komunisme di antara empat peradaban besar –Islam, Barat, India dan Cina-, Obama ingin meneguhkan bahwa Islam sebagai ‘mitra’ bukan musuh.
Begitu pula, jika Bush menghayati ungkapan penasehatnya, Samuel Hutington tentang benturan antar peradaban (the clash of civilizations). Juga usulannya untuk menghadapi apa yang ia sebut dengan militan Islam dengan preemptive strike (serangan dini) dan defensive intervention (intervensi defensif). Obama ingin membawa pesan bahwa barat, khususnya Amerika tidak memusuhi Islam.
Obama, Israel dan Terorisme
Benarkah Obama datang dengan membawa kedamaian dan kasih sayang? Ada baiknya, kita melihat berbagai ungkapan yang pernah disampaikannya. Saat mengunjungi Afghanistan pada bulan Juli 2008 Obama menyatakan akan tetap menjalankan perang melawan terorisme. Melalui juru bicaranya, Humayun Hamidzada, ia mengatakan, “ Bahwa Mr Obama berkomitmen mendukung Afghanistan dan melanjutkan perang melawan terorisme”. Setelah menjadi presiden, Obama membuktikan janjinya. Peperangan di Afghanistan diperluas memasuki wilayah Pakistan, pengiriman pasukan tetap dilakukan bahkan ditambah. Begitu pula perang terhadap terorisme di berbagai negara lainnya, termasuk di Indonesia.
Sebelum menjadi presiden, pada bulan Pebruari 2007 Obama berjanji kepada Dewan Demokrasi Yahudi Nasional (The National Jewish Democratic Council-NJDC) sebagai bentuk dukungan penuh Amerika terhadap Israel. Obama mengatakan, “Jika saya menjadi presiden Amerika, maka negara ini harus bahu membahu dengan Israel. Mereka yang telah bekerja dengan saya di Chicago pada Dewan dan sekarang ada di Senat AS akan menyaksikan bahwa saya bukan Cuma omong besar. Saya akan melakukan apapun jika menyangkut keamanan Israel.” “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kepasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu.”
Dalam konferensi tahunan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) yang merupakan tempat pertemuan tokoh politik dan bisnis pro Israel Pada bulan Juni 2008, Obama menegaskan dukungannya terhadap Israel, menempatkan Israel sebagai sekutu utama AS di Timur Tengah, seraya meminta AS meningkatkan bantuan militernya pada negara zionis tersebut. “Jerusalem harus tetap menjadi ibukota Israel dan harus tetap tak dibagi.”, ungkapnya.
Dalam kunjungan ke Israel bulan Juli 2008 Obama mengulang kembali dukungan penuhnya untuk Israel. Ia berkomitmen dalam menjaga keamanan Israel khususnya dari ancaman Iran. Obama memandang nuklir Iran sebagai ancaman dan Iran harus dicegah dalam kepemilikan senjata nuklir. Padahal bukan rahasia umum lagi Israel-lah yang memiliki ratusan senjata nuklir dan Israel pula yang menjadi sumber ancaman dunia khususnya di Timur Tengah.
Padangan Obama terhadap Palestina dan Hamas juga begitu jelas. Ia sama seperti pendahulunya Bush yang menyatakan Hamas sebagai teroris, walaupun secara sah terpilih oleh rakyat Palestina. Obama mengatakan; “Saya sudah mengatakan, mereka adalah organisasi teroris, yang tak boleh diajak negoisasi kecuali jika mereka mengakui Israel, meninggalkan kekerasan, dan kecuali mereka mau diam oleh perjanjian sebelumnya antara Palestina dan Israel.”
Setelah menjadi presiden, Obama tidak jauh dengan pendahulunya Bush. Dalam masalah Israel, Obama tidak memberikan respon atas berbagai pembantaian yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina. Begitupula dalam masalah terorisme, Obama memastikan semua negara berirama dengan Amerika dalam memberantas terorisme.
Kunjungan dan Kesetiaan
Kunjungan Obama mengukuhkan kedekatannya dengan SBY. Sebagai super power yang mengatur dunia, Obama ingin memastikan bahwa SBY sebagai ‘mitra’ yang baik dan setia. Apalagi, menurutnya, Indonesia menjadi sarang ’militan Islam’ di Asia. Keberhasilan Indonesia dalam menumpas ’militan Islam’ menjadi isyarat ‘kesetiaan’ terhadap Obama. ’Militan Islam’ inilah yang menurutnya menjadi biang terjadinya terorisme global pasca runtuhnya WTC.
Kesetiaan ini dibuktikan SBY dengan keberhasilannya menumpas terorisme. Keberhasilan tersebut melebihi keberhasilan Obama dalam menumpas terorisme diberbagai tempat di dunia, termasuk di Irak dan Afghanistan. Di Irak pasukan Amerika perlahan-lahan berjatuhan, begitu pula yang terjadi di Afghanistan. Keberhasilan Indonesia dalam menumpas terorisme akan menjadi pilot project perang melawan terorisme global. Ditangkapnya Ust. Abu Bakar Ba’asyir yang dituduh sebagai dalang terorisme menjadi kado teristimewa atas kedatangan Obama. Ya Tuan SBY bisa melupakan hiruk pikuk bencana dengan kedatangan Tu(h)an Obama!. [muslimdaily.net]
astaghfirullah...
Smg kita dapat mengabil pelajaran dari artikel ini...









”Surga dan Neraka telah diciptakan Allah. Keberadaan keduanya tidak akan pernah berakhir. Allah menciptakan surga dan neraka sebelum menciptakan yang lain, dan Dia juga menciptakan penduduk untuk masing-masingnya. Siapa yang diinginkanNya, akan masuk ke dalam surga dengan ampunan dan pertolonganNya, dan siapa yang diinginkanNya akan masuk ke dalam neraka sesuai dengan keadilanNya. Setiap orang akan berperilaku sesuai dengan ketentuan yang telah diciptakan untuknya; perbuatan baik dan perbuatan jelek telah ditaqdirkan untuk semua orang.”
orang bertaqwa) jauh-jauh hari sebelumnya, maka hendaknya orang-orang beriman berkompetisi untuk mendapat hak memasukinya. Demikian pula sebaliknya, berdasarkan ayat di bawah ini berarti Allah telah sediakan atau siapkan bagi kaum kafir api neraka yang karenanya hendaknya manusia tidak memilih jalan hidup orang kafir jika tidak ingin berakhir di tempat mengerikan itu.
dimasukkan liang lahat, maka setelah selesai proses interview oleh dua malaikat, maka selanjutnya ia akan diperlihatkan tempat tinggalnya kelak di akhirat. Jika ia calon penghuni surga, maka ia akan diperlihatkan surga tempat tinggalnya kelak di setiap waktu pagi dan petang di dalam kuburnya. Sebaliknya, jika ia termasuk calon penghuni neraka maka ia akan diperlihatkan neraka tempat tinggalnya kelak di setiap waktu pagi dan petang di dalam kuburnya. Hal ini akan berlangsung terus di alam kubur atau alam barzakh hingga tibanya hari Kiamat, dimana ia tidak lagi sekedar menyaksikan tempat tinggalnya di akhirat namun ia bahkan bakal memasukinya. Sehingga di dalam hadits lainnya, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallammenyebutkan doa yang diucapkan seorang beriman selama di dalam kuburnya saat ia berhak melihat tempatnya di surga yaitu:
seorangpun yang mendengar perihal surga melainkan pasti ingin memasukinya.” Kemudian Allah lapisi surga dengan al-makaarih (hal-hal yang tidak disukai manusia) lalu Allah berfirman: ”Hai Jibril, pergi dan lihatlah surga.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, sungguh aku khawatir tidak seorangpun bakal ingin memasukinya.” Ketika Allah menciptakan neraka Dia berfirman kepada Jibril: ”Pergi dan lihatlah neraka.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, tidak seorangpun yang mendengar perihal neraka bakal mau memasukinya.” Kemudian Allah lapisi neraka dengan asy-syahawaat (hal-hal yang disukai manusia) lalu Allah berfirman: ”Hai Jibril, pergi dan lihatlah neraka.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, sungguh aku khawatir tidak akan ada orang yang bakal lolos dari api neraka.” (HR Abu Dawud)


