Tu(h)an Obama dan Tuan SBY

On Saturday, November 20, 2010 0 komentar

Indonesia super sibuk menyambut kedatangan Obama. Lebih sibuk dari evakuasi korban Merapi dan tsunami Mentawai. Sebagai Tuan rumah, kedatangan Tuan dari negara adidaya harus disambut dengan sempurna. Apalagi, kunjungan kali ini adalah yang ketiga kalinya setelah rencana pertama dan kedua gagal.
Obama tentu mempunyai kesan tersendiri dengan Indonesia. Masa kecil yang pernah dihabiskan di Jakarta membuat Obama tak mampu melepaskan Indonesia dari sejarah hidupnya. Makanan bakso kesukaannya menjadi diplomasi kultural bahwa Obama tidak bisa melepaskan aroma Indonesia. Belum lagi adiknya –Maya Suntoro- juga keturunan Indonesia. Obama juga pernah mempunyai ayah tiri dari Indonesia.
Kedatangan Obama tidak sekedar nostalgia dengan Indonesia. Sebagai penduduk Muslim terbesar, Indonesia menjadi lahan strategis untuk mengkampanyekan barat yang ’damai’ dan ’bersahabat’ terhadap Islam. Sikap Indonesia akan menjadi kiblat negara-negara Muslim lainnya. Cap memusuhi Islam dengan agresinya di Afghanistan, Irak dan dukungannya terhadap Israel di Palestina serta berbagai kejahatan atas nama perang melawan terorisme perlahan-lahan harus dihapus dari memori kaum Muslimin.
Obama ingin menunjukkan bahwa ia berbeda dengan pendahulunya George Bush. Jika kebijakan Bush di bangun atas pondasi superioritas dan kebencian. Obama ingin menegaskan bahwa kebijakannya terhadap Islam dibangun atas dasar kasih sayang dan kedamaian. Jika Bush membangun kebijakan dengan menjadikan Islam sebagai ancaman terbesar setelah runtuhnya komunisme di antara empat peradaban besar –Islam, Barat, India dan Cina-, Obama ingin meneguhkan bahwa Islam sebagai ‘mitra’ bukan musuh.
Begitu pula, jika Bush menghayati ungkapan penasehatnya, Samuel Hutington tentang benturan antar peradaban (the clash of civilizations). Juga usulannya untuk menghadapi apa yang ia sebut dengan militan Islam dengan preemptive strike (serangan dini) dan defensive intervention (intervensi defensif). Obama ingin membawa pesan bahwa barat, khususnya Amerika tidak memusuhi Islam.
Obama, Israel dan Terorisme
Benarkah Obama datang dengan membawa kedamaian dan kasih sayang? Ada baiknya, kita melihat berbagai ungkapan yang pernah disampaikannya. Saat mengunjungi Afghanistan pada bulan Juli 2008 Obama menyatakan akan tetap menjalankan perang melawan terorisme. Melalui juru bicaranya, Humayun Hamidzada, ia mengatakan, “ Bahwa Mr Obama berkomitmen mendukung Afghanistan dan melanjutkan perang melawan terorisme”. Setelah menjadi presiden, Obama membuktikan janjinya. Peperangan di Afghanistan diperluas memasuki wilayah Pakistan, pengiriman pasukan tetap dilakukan bahkan ditambah. Begitu pula perang terhadap terorisme di berbagai negara lainnya, termasuk di Indonesia.
Sebelum menjadi presiden, pada bulan Pebruari 2007 Obama berjanji kepada Dewan Demokrasi Yahudi Nasional (The National Jewish Democratic Council-NJDC) sebagai bentuk dukungan penuh Amerika terhadap Israel. Obama mengatakan, “Jika saya menjadi presiden Amerika, maka negara ini harus bahu membahu dengan Israel. Mereka yang telah bekerja dengan saya di Chicago pada Dewan dan sekarang ada di Senat AS akan menyaksikan bahwa saya bukan Cuma omong besar. Saya akan melakukan apapun jika menyangkut keamanan Israel.” “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kepasitas apapun untuk tidak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu.”
Dalam konferensi tahunan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) yang merupakan tempat pertemuan tokoh politik dan bisnis pro Israel Pada bulan Juni 2008, Obama menegaskan dukungannya terhadap Israel, menempatkan Israel sebagai sekutu utama AS di Timur Tengah, seraya meminta AS meningkatkan bantuan militernya pada negara zionis tersebut. “Jerusalem harus tetap menjadi ibukota Israel dan harus tetap tak dibagi.”, ungkapnya.
Dalam kunjungan ke Israel bulan Juli 2008 Obama mengulang kembali dukungan penuhnya untuk Israel. Ia berkomitmen dalam menjaga keamanan Israel khususnya dari ancaman Iran. Obama memandang nuklir Iran sebagai ancaman dan Iran harus dicegah dalam kepemilikan senjata nuklir. Padahal bukan rahasia umum lagi Israel-lah yang memiliki ratusan senjata nuklir dan Israel pula yang menjadi sumber ancaman dunia khususnya di Timur Tengah.
Padangan Obama terhadap Palestina dan Hamas juga begitu jelas. Ia sama seperti pendahulunya Bush yang menyatakan Hamas sebagai teroris, walaupun secara sah terpilih oleh rakyat Palestina. Obama mengatakan; “Saya sudah mengatakan, mereka adalah organisasi teroris, yang tak boleh diajak negoisasi kecuali jika mereka mengakui Israel, meninggalkan kekerasan, dan kecuali mereka mau diam oleh perjanjian sebelumnya antara Palestina dan Israel.”
Setelah menjadi presiden, Obama tidak jauh dengan pendahulunya Bush. Dalam masalah Israel, Obama tidak memberikan respon atas berbagai pembantaian yang dilakukan Israel terhadap penduduk Palestina. Begitupula dalam masalah terorisme, Obama memastikan semua negara berirama dengan Amerika dalam memberantas terorisme.
Kunjungan dan Kesetiaan
Kunjungan Obama mengukuhkan kedekatannya dengan SBY. Sebagai super power yang mengatur dunia, Obama ingin memastikan bahwa SBY sebagai ‘mitra’ yang baik dan setia. Apalagi, menurutnya, Indonesia menjadi sarang ’militan Islam’ di Asia. Keberhasilan Indonesia dalam menumpas ’militan Islam’ menjadi isyarat ‘kesetiaan’ terhadap Obama. ’Militan Islam’ inilah yang menurutnya menjadi biang terjadinya terorisme global pasca runtuhnya WTC.
Kesetiaan ini dibuktikan SBY dengan keberhasilannya menumpas terorisme. Keberhasilan tersebut melebihi keberhasilan Obama dalam menumpas terorisme diberbagai tempat di dunia, termasuk di Irak dan Afghanistan. Di Irak pasukan Amerika perlahan-lahan berjatuhan, begitu pula yang terjadi di Afghanistan. Keberhasilan Indonesia dalam menumpas terorisme akan menjadi pilot project perang melawan terorisme global. Ditangkapnya Ust. Abu Bakar Ba’asyir yang dituduh sebagai dalang terorisme menjadi kado teristimewa atas kedatangan Obama. Ya Tuan SBY bisa melupakan hiruk pikuk bencana dengan kedatangan Tu(h)an Obama!. [muslimdaily.net]

astaghfirullah...
Smg kita dapat mengabil pelajaran dari artikel ini...
Read more ...»

Ikhwan dan akhwat sejati

On 0 komentar

IKHWAN SEJATI
Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!” Sang Ibu tersenyum dan menjawab…

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan.
Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.
Setelah itu, sang remaja pria kembali bertanya. Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ? Sang Ibu memberinya buku dan berkata… Pelajari tentang dia. Ia pun mengambil buku itu, MUHAMMAD, judul buku yang tertulis di buku itu.


AKHWAT SEJATI
Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?” Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum. Anakku…
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari, keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.
Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya. Ketahuilah putriku…
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.
Dan ingatlah… Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.Setelah itu sang anak kembali bertanya,
“Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?” Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!” Sang anakpun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”. (Muslimah Sholihah)

Read more ...»

Semangat yang sebatas lisan bertutur...

On 0 komentar

SEMANGAT! Sebuah kata yang sering terucap dari mulut kita jika mendapati saudara kita mulai merasa jenuh, di saat mereka mulai tidak bergairah untuk melakukan kebaikan, di saat mereka mulai lesu dan berkeluh kesah.
"Semangat saudaraku..." Semangat! Begitulah yang sering kita dengar dan kita ucapkan...

Terkadang kata "Semangat" itu menjadi sarana pendukung bagi mereka yang merasa sendiri tanpa dukungan. Kata itu menjadi penyejuk, saat hati mereka mulai galau dengan segala urusan...
Namun, terkadang kata itu hanya sekedar kata tanpa makna. Terkadang kata itu hanya menjadi sebuah kata yang tak memberi arti bagi pendengarnya, sebuah kata yang hanya sebatas angin lalu.

Mengapa sebuah kata yang sama, dapt memberikan efek yang begitu berbeda?
Ya, itu semua tergantung siapa yang mengucapkannya. Ikhlaskah kita saat mengatakannya? Atau kita pun hanya mengucapkannya sebagai penggugur kewajiban kita.
Itulah yang membedakan, kala kata "Semangat" itu diucapkan, mereka sama-sama diucapkan, namun niat sang pembicara itu berbeda.  Maka hasilnya pun berbeda...
Niatkanlah yang terbaik, agar efek yang terbaiklah yang timbul untuk saudaramu...

Di lain sisi, terkadang kata itu menjadi kata-kata tanpa makna, saat kitalah yang membutuhkan kata itu. Ya, kata "semangat" memang terlalu sering kita dengar hingga telinga ini hanya menangkapnya bagai kalimat biasa. Kalimat yang tak membawa makna mendalam bagi yang mendengarnya.

Kadang aku malu, saat aku mulai lesu dah berkeluh dengan keadaanku...
Saat diri ini begitu mudahnya mengatakan kata semangat pada orang lain, namun diri ini pun terpuruk saat meresa mulai lesu... Tak lagi semangat hanya karena bosan dan letih dengan semua beban yang menghimpit...
Tidakkah diri malu? Ia tak dapat mengaplikasikan kata-katanya? Dan beralih dalih, bahwa kita hanyalah seorang manusia yang pasti kan merasakan jenuh ...
Sungguh betapa naifnya kita....

Semoga Allah senantiasa menjaga diri ini tuk terus semangat, hingga kelesuan, lesu menghampiri kita...
Hingg kebosanan, bosan menemui kita...

Read more ...»

Surga Dan Neraka Sudah Tercipta Sejak Dahulu

On Monday, November 15, 2010 0 komentar


Saudaraku, tahukah Anda bahwa sesungguhnya Surga dan Neraka telah tercipta sejak dahulu? Keduanya bukan ciptaan Allah yang baru ada setelah Kiamat kelak terjadi. Dalam kitabnya yang berjudul Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah, Ath-Thahawi menulis sebagai berikut:
”Surga dan Neraka telah diciptakan Allah. Keberadaan keduanya tidak akan pernah berakhir. Allah menciptakan surga dan neraka sebelum menciptakan yang lain, dan Dia juga menciptakan penduduk untuk masing-masingnya. Siapa yang diinginkanNya, akan masuk ke dalam surga dengan ampunan dan pertolonganNya, dan siapa yang diinginkanNya akan masuk ke dalam neraka sesuai dengan keadilanNya. Setiap orang akan berperilaku sesuai dengan ketentuan yang telah diciptakan untuknya; perbuatan baik dan perbuatan jelek telah ditaqdirkan untuk semua orang.”  

Dalam bukunya yang berjudul Ensiklopedia Kiamat,  Dr Umar Sulaiman Al-Asyqar menyatakan bahwa statement Ath-Thahawi di atas mewakili aqidah ahlus-sunnah wal-jama’ah. Beliau selanjutnya menguatkan pandangan di atas dengan mengutip beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits. Di antaranya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ
عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Ayat ini menegaskan bahwa surga telah Allah sediakan atau siapkan bagi kaum muttaqin (orang-orang bertaqwa) jauh-jauh hari sebelumnya, maka hendaknya orang-orang beriman berkompetisi untuk mendapat hak memasukinya. Demikian pula sebaliknya, berdasarkan ayat di bawah ini berarti Allah telah sediakan atau siapkan bagi kaum kafir api neraka yang karenanya hendaknya manusia tidak memilih jalan hidup orang kafir jika tidak ingin berakhir di tempat mengerikan itu.
وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
”Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS Ali Imran ayat 131)

Di antara sabda Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang membenarkan pendapat bahwa surga dan neraka telah diciptakan Allah sejak awal ialah: 

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ
 إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ
 فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya bila salah seorang di antaramu meninggal, maka diperlihatkan kepadanya tempatnya di waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk ahli surga, maka ia ahli surga. Dan jika termasuk ahli neraka, maka ia ahli neraka. Lalu dikatakan kepadanya: ”Inilah tempatmu sehingga Allah bangkitkan kamu pada hari Kiamat.” (HR Bukhary)

Hadits di atas menjelaskan bahwa begitu seorang manusia meninggal dunia kemudiandimasukkan liang lahat, maka setelah selesai proses interview oleh dua malaikat, maka selanjutnya ia akan diperlihatkan tempat tinggalnya kelak di akhirat. Jika ia calon penghuni surga, maka ia akan diperlihatkan surga tempat tinggalnya kelak di setiap waktu pagi dan petang di dalam kuburnya. Sebaliknya, jika ia termasuk calon penghuni neraka maka ia akan diperlihatkan neraka tempat tinggalnya kelak di setiap waktu pagi dan petang di dalam kuburnya.  Hal ini akan berlangsung terus di alam kubur atau alam barzakh hingga tibanya hari Kiamat, dimana ia tidak lagi sekedar menyaksikan tempat tinggalnya di akhirat namun ia bahkan bakal memasukinya. Sehingga di dalam hadits lainnya, Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallammenyebutkan doa yang diucapkan seorang beriman selama di dalam kuburnya saat ia berhak melihat tempatnya di surga yaitu:
رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي
“Ya Rabb, datangkanlah hari Kiamat agar aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku.”(HR Ahmad)

Si mu’min tidak sabar menanti datangnya hari Kiamat. Sebaliknya, ucapan seorang kafir atau munafik selama di dalam kuburnya saat ia melihat neraka sebagai calon tempat tinggalnya di akhirat kelak nanti ialah:
رَبِّ لَا تُقِمْ السَّاعَةَ
“Ya Rabb, janganlah Engkau datangkan hari Kiamat.” (HR Ahmad)

Dalam hadits lainnya diriwayatkan bahwa ketika Nabishollallahu ’alaih wa sallam diperjalanankan pada malam Isra’ dan Mi’raj, maka beliau diizinkan Allah melihat surga. Hal ini juga menegaskan bahwa surga sesungguhnya sudah ada sejak dahulu.
ثُمَّ انْطَلَقَ بِي حَتَّى انْتَهَى بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
وَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لَا أَدْرِي مَا هِيَ ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ
فَإِذَا فِيهَا حَبَايِلُ اللُّؤْلُؤِ وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ
“Kemudian Jibril mengantar aku ke Sidratul Muntaha, yang diliputi oleh warna-warna yang sulit dilukiskan keindahannya. Kemudian aku masuk ke dalam surga, yang cahayanya seperti cahaya mutiara dan tanahnya seperti kesturi.” (HR Bukhary)

Bahkan ada lagi suatu hadits panjang yang menggambarkan bahwa surga dan neraka telah Allah ciptakan dahulu dan bahwa Allah telah menyuruh Malaikat Jibril untuk melihat dan memberikan penilaian terhadap keduanya. Kemudian Allah melapisi masing-masing surga dan neraka dengan lapisan yang bisa menyebabkan manusia tertipu akan hakikat keduanya. Dan pelapis itulah –wallahu a’lam- alam fana dunia yang sedang kita jalani saat ini. Dunia yang fana ini memang sangat kaya dengan tipuan mata bagi manusia.
لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا
 فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ
 لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا ثُمَّ حَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ
 ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ
فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ
لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ
قَالَ فَلَمَّا خَلَقَ اللَّهُ النَّارَ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ
فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ
أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلُهَا
فَحَفَّهَا بِالشَّهَوَاتِ ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ
فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ
أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا
“Ketika Allah menciptakan surga Dia berfirman kepada Jibril: ”Pergi dan lihatlah surga.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, tidak seorangpun yang mendengar perihal surga melainkan pasti ingin memasukinya.” Kemudian Allah lapisi surga dengan al-makaarih (hal-hal yang tidak disukai manusia) lalu Allah berfirman: ”Hai Jibril, pergi dan lihatlah surga.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, sungguh aku khawatir tidak seorangpun bakal ingin memasukinya.” Ketika  Allah menciptakan neraka Dia berfirman kepada Jibril: ”Pergi dan lihatlah neraka.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, tidak seorangpun yang mendengar perihal neraka bakal mau memasukinya.” Kemudian Allah lapisi neraka dengan asy-syahawaat (hal-hal yang disukai manusia) lalu Allah berfirman: ”Hai Jibril, pergi dan lihatlah neraka.” Maka Jibril pergi dan melihatnya. Kemudian ia datang dan berkata: ”Demi keagunganMu ya Rabb, sungguh aku khawatir tidak akan ada orang yang bakal lolos dari api neraka.” (HR Abu Dawud)

Ya Allah, sungguh kami memohon ridha dan surgaMu,  dan sungguh kami berlindung kepada Engkau dari murka dan nerakaMu. Amin ya Rabb.-

sumber : eramuslim.com
Read more ...»

Bertahanlah, dan janganlah tertipu dengan waktu luang...

On 0 komentar


Pernahkah kau merasa dalam posisi terjepit? terlilit tugas yang kian menghimpit? rezeki pailit? mencari waktu tuk istirahat pun sulit, sampai mata jadi pada sipit-sipit? (:p)

Di saat seperti itulah kesabaran kita diuji, sampai seberapa jauh kita mampu bertahan, jalan da'wah memang bukanlah jalan unutk bersenang-bersenang serta bersantai ria, menikmati gemerlap semu dunia. Jalan ini jalan perjuangan, jalan ketegaran dan kesabaran, serta jalan penantian menuju akhir yang memuaskan. 

Mereka yang berada di jalan ini, adalah manusia terpilih, manusia yang 'harusnya' siap mengorbankan segalanya, seluruh jiwa dan raga, harta, waktu, serta tenaga. Semuanya! Mereka yang berada di jalan ini seharusnya mengetahui bahwa ini bukanlah jalan tuk bermain-main, ini bukanlah jalan yang kita dapat pulang-pergi seenaknya. Ini jalan para nabi dan syuhada, jalan para pejuang-Nya. Kita dituntut tuk bersungguh-sungguh, tak mengeluh apalagi menuntut. 


Kutahu, satu hal yang ingin kau miliki, waktu luang? waktu luang meski hanya sedikit tuk beristirahat, bukan? Jalan ini memang menuntut seluruh waktu luangmu, kala semua bekerja kita bekerja, dan saat mereka beristirahat, kita masih tetap bekerja. 
Namun, jangan kau keluhkan apalagi menuntu waktu luangmu.
Bersyukurlah kita masih berada di jalan ini, jalan perjuangan ini, jalan yang tak dapat ditempuh oleh manusia yang biasa. Inilah jalan kita, di sini integritas kita diuji, sampai seberapa jauh kita dapat bertahan dan terus melangkah.

Bersyukurlah, karena Allah masih melindungi kita dari jebakan waktu luang. Bersyukurlah Allah masih menyibukkan kita dengan semua tugas dan amanah yang menghimpit sampai merenggut seluruh waktu luang kita. 
Sungguh, waktu luang itu amat berbahaya. Waktu luang yang kau impikan itu sungguh amat membahayakan. Kau kan merasakan betapa bahayanya waktu luang saat kau mulai terlena dengannya. Saat kau mulai masuk dan terbuai dengan semua fasilitas yang membuatmu melupakan segalanya. Ketika kau mulai melalaikan amanahmu, itulah titik pertama kehancuran kita. Saat kita mulai mencintai waktu luang kita, saat kita tak mau lagi bergerak karena dunia ini begitu menyenangkan, memanjakan dengan waktu luang yang kita dapatkan, hingga kita tak mau kembali ke jalan perjuangan itu.

Waktu luang memang begitu menyesatkan, membuai serta menghanyutkan kita pada rasa nyaman, membuat  kita membandingkannya dengan rasa letih saat berada di jalan perjuangan. 
Namun, janganlah engkau terpedaya, saudaraku.
Masihkah kau ingat dengan janji Allah? Ingatlah kita hidup hanya sementara, untuk apa kita bersantai dan menuntut rasa nyaman di dunia yang semu ini? Bukankah surga obesesi kita? Bukankah Islam tegak di bumi misi kita?

Kita, di sini tu berjuang mencari ridhanya. Kita di sini, berjuang tuk dapat bertemu dengan-Nya. Kita di sini berjuang agar kita tak malu nanti-Nya. Kita di sini berjuang, agar kita dapat beristiharat di tempat terbaik-Nya, di tempat yang Dia janjikan. Tempat yang kekal, yang disediakan bagai mereka yang telah berjuang di jalan-Nya...

Maka, Bertahanlah saudaraku dan janganlah tertipu dengan waktu luang...
Read more ...»

Kekurangan yang melejitkan...

On Saturday, November 13, 2010 0 komentar


"Nyalakanlah lenteramu, dan janganlah mencerca kegelapan..."

Jangan pernah engkau putus aja karena kau memiliki banyak kekurangan...
Jangan pernah kau menyalahkan kekuranganmu. Jangan lihat seberapa banyak kekuranganmu, namun lihat bagaimana kau menjadikan kelemahanmu itu sebagai sebuah potensi besar yang MELEJITKAN. Orang-orang besar lahir dari orang-rang yang biasa, banyak memiliki kekurangan. Yang membedakan adalah mereka MAU menjadai LUAR BIASA, dan mereka MAU BERUSAHA. Mereka MAU keluar dari zona NYAMAN mereka. Mereka mendobrak pintu KEPUTUSASAAN, mereka mendobrak pintu KEMALASAN.
Mereka BERJUANG, mereka tak hanya duduk menggerutukan nasib dan kekurangan yang kian hari kian dipertanyakan. Kekurangan yang kian hari kian banyak ditemukan.

Untuk apa mencari-cari kekurangan kita? Bukankah masih banyak kelebihan kita? 
Bukan kah masih ada celah tuk menutupi bahkan melejitkan kekurangan kita?
Lalu tunggu apalagi? Dunia ini sungguh sangat sebentar jika hanya dihabiskan tu bensandar...
Di dunia, kita hanya hidup sekali. Tidakkah kau ingin mengukir prestasi?

Di tengah segala kekurangan kita, yakinlah. Allah memberi masalah untuk kita pecahkan. Allah memberi kita kekurangan untuk kita lejitkan. Allah ingin melihat seberapa besar keinginan kita tuk berubah. Menciptakan potensi ditengah keterbatasan kita. Allah ingin melihat seberapa jauh kita sanggup melangkah menuju hidayah. Menuju akhir yang full BAROKAH. 

Mari kita buktikan. Mari kita tunjukkan bahwa kita mampu melakukan PERUBAHAN. Menciptakan suatu KEBERMANFAATAN. Mulai dari sini, mari kita lenyapkan pintu KEMALASAN. Mari kita manfaatkan semua potensi kita, bahkan kekurangan yang kita keluhkan.

Perubahan tidaklah mutlak sesuatu yang signifikan, mulailah dari sedikit perubahan-perubahan kecil. Kecil, namun berkelanjutan. Sedikit demi sedikit mulai menjadi lebih baik. Bukankah itu lebih baik dari pada perubahan besar yang hanya sebatas angan-angan, tanpa action yang nyata. Jangan meremehkan perubahan kecil, karena perubahan itu dinilai bukan dari segi kuantitasnya, namun seberapa hebat kualitasnya.
Terkadang memulai suatu perubahan adalah suatu hal yang menyulitkan, terlebih jika perubahan itu menuju ke arah yang lebih baik. Itulah, ujiannya. Baru mau memulai saja sudah diuji dengan rasa takut dan tak mau memulai, takut gagal, dan lain sebagianya. Saat berhasil memulai, kita pun masih diuji dengan rasa malas, bosan, bahkan ingin berhenti. Ujian inilah yang kan menentukan, siapa yang benar0benar ingin berubah serta siapa yang hanya bersemangat di awal saja. Di sinilah, integritas kita diuji, sampai seberapa mampu kita mempertahankan perubahan yang kita lakukan. Di sinilah kita diuji seberapa kuat kita mempertahankan diri ini  tuk terus menjaga serta meningkatkan peran kita, potensi kita. Di sinilah kita diuji!

Maka, bersiaplah. Bersiaplah untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Meski ujian kan datang menghampiri, meski ujian itu kan datang bertubi-tubi. Bersiaplah. Mari kita sambut dan mulai perubahan kita, percayalah semua yang baik akan berakhir dengan baik jika kita ikhlas melakukannya. Semua kan berakhir dengan baik jika kita terus menjaga, mempertahankan, serta meningkatkan kualitasnya....

Orang hebat, tak selalu bermula dari yang hebat...
Orang hebat bermula dari orang yang mau BERUBAH, serta selalu tanggap terhadap MOMENTUM.

Read more ...»

Jangan meremehkan yang kecil...

On Friday, November 12, 2010 0 komentar

Mulailah dari yang kecil, janggan anggap remeh yang kecil...

Jangan remehkan yang kecil, sebuah kata yang amat familiar di telinga kita. Namun, pengaplikasiannya?
Masih banyak manusia yang meremehkan yang kecil, padahal tak jarang yang kecil itulah penentunya. Seperti kisah pelacur yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Juga kisah  wanita yang masuk neraka karena menelantarkan seekor kucing. Kecil, namun menentukan, maka janganlah kau meremahkan yang kecil.

"Ikhlaskanlah agamamu, niscaya amal yang sedikit pun mencukupimu..."
Sesuatu yang kecil itu pun menentukan. Kecil namun continue, bukankah itu lebih bermakana daripada sesuatu yang besar namun hanya dilakukan sekali?
Maka janganlah meremehkan yang kecil. Sesuatu kebaikan kecil yang dilakukan continue kan menjadi amal unggulan. Kebaikan kecil yang dilakukan itu pun kan menjadi suatu kebiasaan, kebiasaan yang menyelamatkan. Kebiasaan yang membuat kita tuk terus bertahan. Kebiasaan yang tertanam tajam, hingga kita tak mampu meninggalkannya...
Itulah, kekuatan continuetas.

"Tidak ada dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus, dan tidak ada dosa besar apabila dimohonkan ampunan..."
Kecil, namun membahayakan. Itulah dosa kecil  yang kita remehkan. Kecil yang melenakan, hingga tubuh ini tak lagi mampu menggerakkan. Terkekang dalam dosa kecil yang membutakan, melenakan serta meyesatkan.
Tak jarang karena dosa kecil itulah yang menyusahkan diri ini tuk melakukan kebaikan...
Dosa kecil yang kita remehkan itu pada akhirnya kan membuat kita sulit melangkah melakukan perbaikan, mengekang diri dengan rasa malas, menghambat perubahan...
Semua itu hanya karena dosa kecil yang kita remehkan, maka saudaraku...

Jangan kita meremehkan yang kecil...

Read more ...»