Showing posts with label tausiyah. Show all posts
Showing posts with label tausiyah. Show all posts

Ya Allah, Sungguh hikmah itu indah...

On Wednesday, November 30, 2011 1 komentar


Ya Allah, sungguh hikmah itu indah…

Sungguh hikmah itu begitu indah. Kadang kita menemukannya saat kita berada di titik paling kritis. Kadang kita menemukannya justru saat kita merasa benar-benar terpuruk. Sungguh himah begitu indah, ia muncul bak bunga yang merekah. Ia muncul menjadi pelipur dan pemberi pelajaran. Sungguh hikmah begitu indah...

Aku terperangkap dalam gelap. Sendiri, sunyi, sepi. Entah ini karena aku yang hanya mengurung diri atau aku tak mampu lagi memandang orang-orang di sekitarku. Aku hanya merasa hidup ini monoton. Diam, stabil, sama sekali tak bergejolak. Ritinitas hanya berakhir sebagai rutinitas. Tak ada kesenangan saat menjalani, tak ada rasa syukur saat diberi kesempatan untuk menjalani.

Semua hanya berlalu, berputar. Tak bergerak, aku sadar akan hal itu namun aku hanya diam. Termenung meratapi semua, terduduk memikirkan masa depan yang kian tak menentu. Kadang ku menyalahkan keadaan, kadang aku menimpakan semua kekesalan pada kenyataan. Aku sadar itu semua kuasa-Nya. Aku sadar seharusnya aku terus maju, memaksimal potensi. Seharusnya aku menatap jauh ke depan, bukan hanya melihat dan berfokus pada masa lalu.

Kini, sudah saatnya aku berbenah. Sudah saatnya aku memulai melangkah, tak peduli seberapa kecil aku memulainya, tak peduli seberapa rendah presentasenya. Setidaknya aku telah bergerak, tak hanya diam, menunggu dan menyalahkan. Bukankah Allah takkan mengubah suatu kaum jika mereka tidak memulai untuk merubahnya? 

Hari ini aku tersadar. Aku telah kehilangan banyak waktu, aku lalai dan tertinggal. Kadang aku iri dengan mereka yang berjuang menggapai cita. Kadang aku iri dengan mereka yang tengah berada di atas awan. Kadang aku iri dengan segala kelebihan mereka. Namun aku sadar di balik segala kesuksesan dan kelebihan itu, mereka berjuang, mereka berusaha. Itulah yang membedakan. Itulah yang menjadikan sebuah kesuksesan terasa indah dan berkesan. Karena jauh sebelum mereka sukses, mereka telah merasakan sakitnya terjatuh, mereka telah merasakan pedihnya tertinggal.

Semoga kita dapat mengambil hikmah dan berbenah…

Michi, 30/11/2011, 03.25 P.M
Read more ...»

So as Long as I live I love you

On Wednesday, March 2, 2011 0 komentar


So as long as I live I love You,
 And from now to my very last breath, I will always love You...
You will be my every reason and You're all that I believe in...


Terkadang terbisit dalam diri ini seberapa besarkah cintaku untuk-Nya?
Terkadang diri ini merasa malu, merasa begitu hina... merasa terpuruk jika mengingat akan semua cinta-Nya. Ia selalu memberikan rahmat dan kasinh sayang-Nya padaku. Meski aku masih saja berbuat maksiat pada-Nya, meski tak jarang aku menunda-nunda apa yang ia perintahkan kepadaku.
Terkadang diri ini, hanya dapat diam membisu, ketika aku mulai bertanya, "Seberapa besarkah cintamu pada-Nya?"
Diri ini hanya dapat menunduk tanpa memberikan jawaban yang nyata. Terdiam dalam segala kemaluan yang teramat dalam, karena memang cintaku untuk-Nya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan cinta yang Ia berikan kepadaku...


Bukankah Ia-lah Sang pemilik Cinta, Sang pengikat hati semua insan...
Lalu mengapa begitu sulit diri ini memfokuskan cinta terbesarnya hanya untuk Sang pemilik cinta?
Mengapa diri ini masih terlarut dalam cinta-cinta semu yang bahkan hanya akan mendatangkan kemudharatan?


Ya Allah, sungguh diri ini ingin dapat terus mencintai-Mu, selama aku hidup, hingga nafas terakhir yang terhembus...
Sungguh diri ini ingin memposisikan rasa cinta pada-Mu sebagai dasar atas rasa cinta pada yang lain,
semua cinta yang berlandaskan kesucian, Cinta karena Allah...
Cinta yang tumbuh dari kesucian diri, yang tumbuh dan berkembang tanpa pamrih, cinta yang berusaha untuk selalu memberi yang terbaik...
Cinta yang semata-mata hanya mengharap Keridhaan-Mu...


Sungguh Ya Allah, bantulah diri ini agar aku dapat mengatakannya secara lantang, mempertanggungjawabkannya dengan perbuatan...


"So as long as I live I love You...
 And from now to my very last breath, I will always love You...
You will be my every reason and You're all that I believe in..."

Read more ...»

Tausiyah untukmu, saudariku...

On Sunday, February 27, 2011 0 komentar


Ukhti…
Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho Tuhanmu, mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya zaman sekarang? Atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang diidamkan, bahkan bisa jadi kerudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan.

Ukhti…
Tertutupnya tubuhmu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi?? Bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu..

Ukhti…
Lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya kasihmu pada saudaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu??

Ukhti…
Lembutnya parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak Palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir.. Akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

Ukhti…
Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan ditemani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan dininabobokkan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

Ukhti…
Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang antum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan yaitu maksiat


Ukhti…
Cantiknya wajahmu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titipan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu..

Ukhti…
Tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk berani menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu..

Ukhti…
Tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamumu yang tertindas di palestina, pernahkah antum menangis ketika mujahid-mujahidah kecil tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya berjihad yang dilakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan..

Ukhti…
Lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat. Coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisnya islam dan iman mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berprilaku binatang yang tak karuan. Sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemuliaan Islam??

Ukhti…
Tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang Khaliqm.. Antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul dijaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba….


Ukhti…
Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah diraih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas diatas rata-rata akhwat yang lain, sesombong itukah hatimu, lalu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu

Ukhti…
Rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infaqmu ke mesjid atau mushola.. Sadarkah antum kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terliat kosong dan mengkhawatirka. Tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu.

Ukhti…
Rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah senin kamis yang antum laksanakan, kejujuran hati tidak bisa di bohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksankan tapi, semangat ruhani tanpa di sadari turun drastis, puasa yaumul bidh pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang dirasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum, makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi.

Ukhti…
Manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang yang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah

Ukhti…
Rajinnya shalat malammu (tidak menjamin) keistiqomahan seperti Rosulullah sebagai panutanmu..

Ukhti…
Ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang Kholiqmu,
Masihkah antum senang bermanjaan dengan Tuhanmu dengan shalat dhuhamu, shalat malammu??
Ukhti…
Dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi.
Akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid akan segara menghampirimu

Ukhti…
Masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik.
Jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu..

Ukhti…
Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga Rabbmu.
Maka tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu

Ukhti…
Muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang dilakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu.
Sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antum tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhlaq busukmu di lupakan, kenapa muhasabah tidak dijadikan sebagai moment untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang baik hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik

Ukhti…
Pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan past.
Bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin mencari istri yang solehah dan seorang mujahidah??
Kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah??

Ukhti…
Apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton TV yang tidak karuan dan hanya kan mengeraskan hati Sampai lupa waktu, lupa bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang birrul walidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan,
Mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah??

Ukhti…
Apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena merasa berkerudung besar??

Ukhti…
Hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi disamaratakan antara akhwat yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlaq maka akan merusak citra akhwat yang lain

Ukhti…
Dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan istri yang solehah,

Siapkah antum sekarang menjadi istri solehah yang selalu didamba-dambakan oleh semua orang???


Read more ...»

Dan kau kini semakin cantik, saudariku...

On Tuesday, December 14, 2010 0 komentar

I still remember bout you, and Im affraid if always remember all bout you…
Angin sore menerpanya, dalam segala kebimbangan yang nyata. Terlarut dalam canda, terbuai pada kasih semu yang menjerumuskan hati.
Namun, beruntunglah ia, karena Allah masih menyayanginya… Ia masih memberikannya kesempatan untuk kembali merasa fitrah yang semestinya…
Angin sore berhembus pelan, menembus relung hatinya, sesaat kemudian Setetes air mata penyesalan berlinang di pipinya. Hatinya menjerit, merasa sakit, perih… tapi tenanglah itu hanya sementara…
Beruntunglah kau, masih mendapat kesempatan ini…
Beruntunglah kau, yang masih mendapat petunjuk…
Beruntunglah kau, karena memilih jalan ini…
Beruntunglah kau, karena masih dapat kembali ke jalan ini…
Wahai kau yang air matamu kini lebih indah dari berlian,
Wahai kau yang kini matamu lebih indah dari permata dunia…
Wahai kau yang kini bersimpuh dalam tangis sujud panjangmu,
Beruntunglah engkau saudariku…
Sungguh engkau teramat sangat beruntung…
Janganlah kau pernah ragu,
Karena kau tak memilih jalan yang salah,
Janganlah menyesal, karena kau sungguh teramat sangat beruntung…
Janganlah bersedih, karena Allah menyukai ini…
Dan Allah menyukai permulaan ini…
Tersenyumlah saudariku.
Dan seharusnya kau tahu, kini kau lebih cantik dibandingkan seorang bidadari….
Read more ...»

Nasihat Untuk Generasi Pengemban Dakwah Rasulullah SAW

On Thursday, December 9, 2010 0 komentar

Nasihat Untuk Generasi Pengemban Dakwah Rasulullah SAW

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kekuatan kepada kita sehingga kita mampu bertahan dalam jalan da’waj ini, dan sholawat teriring salam semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatnya kepada Nabi Muhammad SAW, kepada para sahabatnya, tabi’in dan tabi’atnya dan mudah-mudahan kepada kita semua selaku umat akhir jaman, generasi pelanjut estafet perjuangan dakwah Rasulullah SAW.
Akhi Wa ukhti fillah, sengaja saya tuliskan untaian nasihat buat diri saya pribadi kususnya dan buat antum-antum sekalian sebagai bukti kecintaan saya kepada Ikhwah semua. Dalam mengarungi samudera pasti akan di dapati gelombang-gelombang yang akan menghantam sebuah kapal, dari gelombang kecil sampai gelombang besar, ketika terjadi peristiwa itu apa yang harus kita lakukan?? Yang harus kita lakukan adalah yakin terhadap seorang nahkoda dan bersabar, Itulah perumpaan kehidupan dakwah yang sedang kita jalani. Dan itulah generasi yang akan mewarisi kemenangan islam.
Prinsip yang harus di miliki oleh generasi islam adalah
1.Hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh, membenahi diri, berupaya merealisasikan keselamatan, saling menasihati dan menjauhkan segala hal yang akan menyebabkan kebinasaan terhadap dirinya.
"Artinya : Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh, dan nasehat- menasehati supaya menetapi kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran". [Al Ashr 1-3]
2.Menjalankan dengan sempurna (ajaran) agama islam, baik secara idiologi, ataupun perilaku.
3.Menyeru manusia kepada Jalan Allah SWT
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (mengajak berpegang) kepada Allah, melakukan amal shalih dan menyatakan ‘seungguh aku bagian dari kaum muslimin’?” (QS. Fushilat [41] : 33)
4.Mempunyai Komitmen dan berusaha untuk merealisisaikan komitmennya.
5.Bekasih sayang terhadap orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang non-mukmin
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (al-Maa`idah: 54-55)
6.Sabar dan Isitiqomah
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30)

diambil dari:
 http://cilegonsalam.blogspot.com
Read more ...»

Hati yang Kian membatu...

On 0 komentar

Setelah lama kumencari, 
Merasakan Keterpurukan yang semakin menjadi...
Dalam diam kumeratap, bahwa diri ini kian menjauh...
Diri ini kian menjauh...


Terkadang kita terlarut dalam kesenangan yang menghanyutkan, terlena dengan segala fasilitas yang ada. Terlena dengan waktu luang kita. Kita merasa nyaman tanpa beban, tanpa tugas-tugas yang menumpuk, juga tanpa amanah yang sebenarnya kita lalaikan. 

Kita lalai dengan semua, kita hanya terbuai dalam kesenangan-kesenangan yang pada akhirnya hanya akan menjatuhkan kita. Kita lalai dengan semua, pun tak jarang keimanna kita pun mulai terkikis, sejalan dengan lisan ini yang dengan mudahnya mengatakan kata afwan tuk menutupi kebohongan.
Lisan ini tak lagi menyadari bahwa perkataan bohong, akan menjadi seperti obat yang kian memicu pelakunya tuk mengulanginya lagi. Lagi, dan lagi hingga akhirnya lisan ini tak lagi menyadari bahwa perbuatan itu adalah dosa.

Pun dengan amanah, pernahkah kalian merasakan bahwi sekali saja kau tinggalkan amanah hanya karena kalian merasa "Lelah", kalian akan semakin mudah meninggalakan amanah-amanahi itu dikemudian hari. Maka, sadarilah sebelum terlamabat, saudaraku.
Karena waktu yang kau lalaikan takkan kembali lagi...
Waktu kalian takkan menjadi berarti jika hanya kau gunakan tuk kesenangan sesaat.

Aku pun menyadari bahwa kadang diri ini merasa jemu, merasa jenuh dengan semua amanah. Terkadang diri ini merasa ingin berhenti, bahkan diri ini pun pernah berpikir, "mengapa harus aku yang berada di jalan ini?"
astaghfirullah...
Saudaraku, bersyukurlah karena kitalah yang terpilih,
bersyukurlah karena kita masih diberikan kesempatan tuk berdakwah dan terus memperbaiki diri, 
karena inilah medan kita, inilah lahan kita tuk terus berusaha menjadi lebih baik.
Memulai perbaikan dari diri kita sendiri, lalu memulainya dengan keluarga hingga menyebarkannya ke seluruh umat manusia, hingga Allah ridha pada kita...

Janganlah kau berhenti, 
sebelum kau benar-benar yakin Allah telah ridha padamu...

maka, saudaraku...
Apakah Allah telah ridha padamu?


Read more ...»

Surat Hasan al-Basri Kepada Umar bin Abdul Aziz

On Sunday, November 28, 2010 0 komentar


Surat Hasan al-Basri Kepada Umar bin Abdul Aziz

Rabu, 24/11/2010 10:32 WIB 
Hasan Al-Basri rohimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz rohimahullah, dan dalam suratnya Hasan Al-Basri berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya tafakkur Itu mengajak pelakunya kepada kebaikan dan mengamalkannya. Menyesali kejahatan Itu membuat pelakunya meninggalkannya.
Apa yang telah hilang – kendati sangat banyak-tidak bisa dibandingkan dengan apa
yang masih ada, kendati mencarinya adalah sesuatu yang mulia. Bersabar terhadap kelelahan sebentar yang menghasilkan istirahat lama itu lebih baik , daripada penyegeraann istirahat sebentar yang menghasilkan kelelahan abadi.

Waspadalah terhadap dunia yang menipu, berikhianat, dan memperdaya. ia berhias
dengan tipuannya, berdandan dengan muslihatnya, membunuh manusia dengan mimpi-mimpinya, dan membuat ridu para pelamarnya, hingga Ia menjadi seperti pengantin yang menjadi pusat perhatian. Semua mata melihat kepadanva.

Semua hati rindu kepadanva. dan semua jiwanva tertarik kepadanya. Ia menjadi pembunuh bagi semua suami- suaminya. Tragisnya orang yang masih hidup tidak mau belajar dari orang yang telah meninggal dunia, generasi terakhir tidak mengambil pelajaran dari generasi pertama, orang bijak tidak mendapatkan manfaat dari banyaknya
pengalaman, dan orang yang kenal Allah dan beriman kepada-Nya tidak ingat
ketika la diberi penjelasan tentang dunia.

Akibatnya, hati manusia mencintai dunia dan jiwa mereka kikir dengannya. Ini semua tidak lain bentuk kerinduan kita kepada dunia, karena barangsiapa merindukan sesuatu, Ia tidak memikirkan yang lain. Ia mati ketika memburunya atau berhasil mendapatkannya. Kedua orang tersebut adalah perindu dan pemburu dunia.
Perindu dunia telah sukses mendapatkan dunia dan tertipu dengannya. Dengan
dunia, Ia lupa akan prinsip dan hari akhirat. Hatinya disibukkan oleh dunia. Hatinya dibuat larut oleh dunia, hingga kakinya tergelincir di dalamnya, dan kematian datang kepadanya dengan sangat cepat daripada sebelumnya. Ketika itu, penyesalanya pun menggelembung, kesedihannya membesar, terkumpul padanya sakaratul maut dan rasa sakitnya dengan sedih kehilangan dunia.

Sedang orang kedua meninggal sebelum berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia pergi
dari dunia dalam keadaan terpukul hatinya, tidak mendapatkan apa yang dicarinya
dan jiwanya tidak bisa istirahat, dari kelelahan. Ia keluar dari dunia tanpa bekal dan tiba tanpa membawa oleh-oleh. Oleh karena itu, waspadalah secara penuh terhadap dunia, karena dunia itu tak ubahnya seperti ular; kulitnya halus, namun racunnya mematikan.

Berpalinglah dari apa saja di dunia ini yang menarik hatimu, kanena jarang sekali sesuatu yang ada di dunia ini yang menemanimu. Buanglah seluruh ambisi kepada dunia dari dalam hatimu, karena engkau mengetahui dunia itu menyakitkan dan engkau yakin akan berpisah dengannya. Oleh karena itu, waspadalah wahai Amirul Mukminin. Karena sesungguhnya pemilik dunia, setiap kali ia senang kepadanya maka itu berubah menjadi kebencian.
Orang yang gembira di dunia ialah orang yang tertipu, orang yang bermanfaat di dalamnya kelak menjadi orang yang merugi, kemakmuran di dalamnya diberikan bercampur dengan cobaan, dan keabadian di dalamnya berubah menjadi fana. Kebahagiaan di dalamnya bercampur dengan kesedihan, dan akhir kehidupan di
dalamnya adalah lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu, lihatlah dunia seperti penglihatan orang zuhud yang hendak meninggalkannya, dan jangan melihat dunia seperti penglihatan perindu yang jatuh cinta.

Ketahuilah, bahwa dunia itu menghilangkan tamu yang telah menetap, dan menyakitkan orang tertipu yang merasa aman. Apa yang telah berlalu dari dunia tidak akan kembali lagi, dan apa yang akan datang tidak bisa diketahui, apa lagi ditunggu.!
Waspadalah terhadap dunia, karena mimpi-mimpinya dusta belaka, khayalan- khaya
lannya batil kehidupannya melelahkan, dan kejernihannya adalah keruh. Engkau terancam mendapatkan dua hal di dunia ini; nikmat yang akansirna, dan cobaan
yang akan datang, atau musibah yang menyakitkan, dan kematian yang memutus
segala-galanya.

Sungguh, dunia itu melelahkan seseorang, jika ia mau berpikir. Ia berada dalam
nikmat yang membahayakan, takut terhadap musibah-musibah yang ada di dalamnya,
dan meyakini kematian. Seandainya Allah Yang Maha pencipta tidak menyampaikan
berita tentang dunia, dan tidak memberi perumpamaan tentang dunia, dan tidak
memerintahkan manusia bersikap zuhud di dalamnya, pasti dunia membangunkan
orang yang tidur, dan mengingatkan orang yang lupa diri!

Bagaimana tidak, padahal telah datang pelarang dari Allah Azza wa Jalla dan banyak sekali penasihat di dalamnya? Dunia di sisi Allah Azza wa Jalla tidak ada bobot dan nilainya. Berat dunia di sisi Allah Ta’ ala tidak seberat satu kerikil, dan tidak sebesar satu bintang di antara gugusan bintang yang ada. Allah tidak menciptakan makhluk yang Lebih Dia benci dari pada dunia –seperti di sampaikan kepadaku- dan Dia tidak melihat
kepada-nya sejak Dia menciptaknnya karena benci kepadanya.

Sungguh dunia dengan kunci-kuncinya dan semua simpanannya yang nilainya di sisi
Allah Lebih ringan dari sayap lalat , pernah diperlihatkan kepada Nabi kita,
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak menerimanya, karena
beliau telah mengetahui bahwa jlka Allah membenci sesuatu, beliau harus membencinya. Jika Allah mengkerdilkan sesuatu, beliau harus mengkerdilkannya. Dan jika Allah
merendahkan sesuatu, beliau harus merendahkannya.

Jika beliau menerima dunia tersebut, maka bukti kecintaan beliau kepada dunia
tersebut ialah penerimaan beliau terhadap tawaran dalam bentuk dunia tersebut.
Namun beliau menolak mencintai sesuatu yang dibenci Allah, dan mengangkat apa
yang direndahkan Pemiliknya.

Jika Allah Ta’ala tidak menunjukkan tentang rendahnya nilai dunia kepada beliau,
namun Dia memandang rendah dunia tersebut dengan menjadikan kebaikannya sebagai
pahala bagi orang-orang yang taat, dan menjadikan hukuman dunia sebagai siksa
bagi orang-orang yang bermaksiat. Kemudian Allah mengeluarkan pahala taat dari
dunia tersebut, dan mengeluarkan hukuman maksiat daripadanya.

Di antara hal menunjukkan kepada dunia tentang keburukan dunia ini, bahwa Allah
Ta’ala menjauhkan dunia dari orang- orang yang shalih dengan suka rela dan membentangkannya kepada musuh-musuh-Nya dengan tujuan menipunya.

Orang yang tertipu dengan dunia dan tergoda dengannya menyangka bahwa ia
dimuliakan Allah Ta’ala dengan dunia tersebut. Ia lupa terhadap apa yang diperbuat
Allah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.

Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau mengikatkan batu diperutnya karena sakinglaparnya.
Adapun Nabi Musa ‘Alaihis Salam, beliau tidak meminta sesuatu kepada Allah Ta‘ala pada saat ia berteduh di bawah pohon, selain makanan yang bisa beliau makan untuk menghilangkan kelaparannya.
Sungguh banyak sekali riwayat-riwayat dan Nabi Musa ‘Alaihis Salam, bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau , Hai Musa, jika engkau melihat kemiskinan datang kepadamu, katakan, ‘Selamat datang simbol orang-orang shalih.’ Jika engkau melihat
kekayaan datang kepadamu, katakan, ‘ini adalah dosa yang hukumannya dipercepat.’

Jika engkau mau, aku ketengahkan Nabi Isa ‘alaihis salam kepada baginda, karena ia amat menakjubkan. Ia berkata, “Lauk-ku adalah lapar, Syi’arku ialah takut, Pakaianku ialah wol., Hewan kendaraanku ialah kedua kakiku. Lampuku di malam hari ialah bulan. Bahan bakarku di musim dingin ialah matahari. Buah -buahanku dan penghidupanku ialah apa yang ditumbuhkan bumi untuk binatang buas dan hewan ternak. Aku tidur dalam keadaan tidak memiliki apa-apa dan tidak ada seorang pun yang lebih kaya dariku”.
Jika engkau mau, aku ketengahkan contoh keempat, yaitu Nabi Sulaiman bin Daud
Alaihimas Salam, karena ia tidak kalah menakjubkan. Ia makan roti dan gandum, memberi roti coklat kepada keluarganya, dan tepung putih kepada rakyatnya.

Jika malam telah tiba, ia memakai baju dari tenunan kasar, dari tangannya ke lehernya Ia semalaman menangis hingga pagi hari. Ia makan makanan yang kasar, dan mengenakan pakaian kasar. Kendati Itu semua, mereka membenci apa saja yang dibenci Allah Ta’ala, memandang kecil apa yang dipandang kecil oleh Allah Ta’ala, dan bersikap zuhud di dalam hal-hal yang Allah bersikap zuhud di dalamnya.
Kemudian orang-orang shalih meniti jalan mereka, menapaktilasi jalan mereka, mengharuskan dirinya berlelah- lelah, dan memahami lbrah, serta merenung diri.
Mereka bersabar di dunia yang singkat ini dari kenikmatan yang menipu yang berakhir kepada kemusnahan. Mereka melihat kepada akhir dunia, dan tidak melihat kepada permulaannya. Mereka melihat kepada hasil akhir dunia yang pahit, dan tdak melihat rasa manis yang hanya terasa pada awal-awalnya saja.
Mereka mengharuskan dirinya bersabar dan menempatkan diri mereka seperti mayit-mayit yang tidak boleh kenyang di dunia, kecuali pada saat yang dibutuhkan. Mereka makan sebatas untuk menguatkan jiwa, dan ruh. Mereka menempatkan diri mereka seperti bangkai yang telah membusuk, hingga membuat siapa saja yang melewatinya, pasti Ia menutup hidungnya. Mereka tidak meraih dunia hingga sampai tahap merugikannya, dan tidak sampai kenyang yang berbau busuk.
Dunia dijauhkan dari mereka. Itulah kedudukan dunia dalam jiwa mereka. Mereka
merasa heran terhadap orang yang memakan dunia hingga kekenyangan, dan
bersenang-senang dengannya hingga rakus. Mereka berkata, Tidakkah kalian lihat
bahwa mereka tidak takut makan? Tidakkah mereka mendapatkan bau busuknya?

Saudaraku, demi Allah sesungguhnya bau dunia sekarang atau esok itu lebih busuk
daripada bangkai. Hanya saja manusia meminta sabar dengan segera. Akibatnya,
mereka tidak bisa mencium bau busuk. Mereka tidak bisa mencium bau bau yang ada
di kulit yang membusuk yang mengganggu para pejalan kaki, dan orang-orang yang
duduk di dekatnya.

Cukuplah dunia bagi orang yang berakal, bahwa barangsiapa meninggal dunia
dengan meninggalkan harta yang banyak, Ia sangat berkeinginan seandainya dulu
ia menjadi orang miskin di dunia, atau orang mulia, atau orang buangan, atau
orang selamat. Ia lebih senang seandainya di dunia dulu ia menjadi orang yang
menderita, atau rakyat biasa.

Jika engkau meninggalkan dunia ini, pasti engkau lebih senang seandainya engkau
di dunia ini menjadi orang yang paling rendah kedudukannya, dan orang yang
paling miskin. Bukankah ini cukup dijadikan bukti bahwa dunia itu sangat hina
bagi orang yang memikirkannya?

Demi Allah, jika seseorang mengharapkan sesuatu dari dunia ini melainkan ia
mendapati dunia tersebut berada di sampingnya tanpa ia kejar dan merasakan
kelelahan. Namun jika Ia telah mendapatkan sesuatu dari dunia tensebut, ia mempunyai hak-hak Allah di dalamnya, dan ia akan ditanya tentang dunia tersebut, serta ia akan dihisab karenanya Jika demikian permasalahannya, maka seyogyanya orang berakal itu tidak mengambil sesuatu dari dunia, kecuali sebesar porsi makanannya dan kebutuhannya, karena khawatir akan ditanya tentang dunia tersebut, dan takut akan dahsyatnya hisab terhadap dirinya.

Sesungguhnya dunia itu jika engkau memikirkannya, tidak lebih dari tiga hari: hari kemarin yang tidak bisa engkau harapkan lagi, hari yang engkau berada didalamnya yang harus engkau manfaatkan sebaik mungkin, dan hari esok yang engkau tidak tahu apakah engkau berada di hari tersebut atau tidak? Engkau tidak tahu siapa tahu engkau meninggal dunia esok pagi.
Adapun kemarin, ia ibarat orang bijak yang pandai mendidik. Adapun hari ini, ia ibarat teman yang akan mengucapkan selamat berpisah. Namun, kendati kemarin telah membuatmu sakit, engkau telah menggenggam hikmah. Jika engkau telah menyia-nyiakannya, engkau mendapatkan ganti. Tadinya kemarin tersebut tidak ada pada dirimu, namun sekarang ia cepat pergi darimu.
Adapun esok hari, engkau masih mempunyai secercah harapan. Oleh karena itu,
berbuatlah, dan jangan tertipu oleh mimpi-mimpi sebelum ajal tiba. Engkau jangan memasukkan kesedihan esok dan esok lusa ke dalam hari ini, karena hal tersebut hanya akan menambah kesedihanmu dan kelelahanmu, serta engkau kumpulkan pada hari ini sesuatu yang menyempurnakan hari-harimu. Itu hal yang mustahil, karena kesibukan Itu sangat padat, kesedihan Itu semakin bertambah, kelelahan itu semakin besar, dan seseorang membuang amal dengan impian kosong.

Seandainya harapan esok pagi keluar dari hatimu, engkau telah berbuat dengan
baik pada hari ini, dan telah mengurangi kesedihanmu pada hari ini. Namun harapanmu terhadap esok pagi itu membuatmu bersikap tidak serius,dan membuatmu menjadi orang yang banyak menuntut.

Jika engkau ingin kata-kata singkat, aku pasti mendiskripsikan untukmu tentang
dunia di antara dua jam; satu jam yang telah berlalu, satu jam yang akan datang, dan satu jam yang engkau sedang berada dl dalamnya.

Adapun satu jam yang telah berlalu dan telah lewat. maka engkau tidak mendapatkan kelezatan di istirahat keduanya dan merasakan sakit terhadap musibah keduanya. Sesungguhnya dunia ialah saat yang engkau sedang berada di dalamnya. Satu jam tersebut menipumu dari surga dan menggiringmu ke neraka.
Adapun hari ini -jika engkau memikirkannya- adalah ibarat tamu yang singgah kepadamu dan akan pergi darimu. Jika engkau menjamu dan melayaninya dengan baik, Ia menjadi saksi bagimu, memujimu, dan membenarkanmu di dalamnya. Jika engkau menjamunya dengan buruk, Ia berputar di kedua matamu.
Kedua hari tersebut adalah ibarat dua saudara. Salah seorang daripadanya bertamu kepadamu, kemudian engkau bersikap buruk terhadapnya, dan tidak menjamunya dengan baik. Sesudah orang tersebut pergi darimu, datanglah orang satunya, kemudian berkata kepadamu, Aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku.
Jika engkau berbuat baik kepadaku, perbuatan baikmu ini akan menghapus perbuatan burukmu kepada suadaraku sebelum ini dan memaafkan apa yang telah engkau perbuat terhadapnya. Hati-hatilah engkau, jika aku berkunjung kepadamu dan aku datang kepadamu setelah kepergian saudaraku darimu. Sungguh, engkau telah beruntung mendapatkan pengganti jika engkau mau berfikir.Periksalah apa yang telah engkau sia-siakan!.
Jika engkau menyamakan orang kedua seperti orang pertama, maka alangkah
pantasnya engkau binasa karena kesaksian dua orang tersebut terhadap dirimu!.

Sesungguhnya sisa umur itu tidak ada nilainya. Seandainya semua dunia dikumpulkan, maka dunia tidak lebih dari satu hari dalam umur seseorang.
Jangan sekali-kali mayat di kuburan itu lebih bisa menghargai sesuatu yang ada
di tanganmu daripada engkau sendiri. padahal sesuatu tersebut milikmu. Demi Allah. jika dikatakan kepada mayat di kuburan. ‘Inilah dunia itu dan awal hingga akhir. Engkau memberikannya kepada anak-anakmu kemudian mereka bersenang-senang dengannya sepeninggalmu. Engkau lebih mencintai mereka ataukah lebih mencintai hari di mana engkau dibiarkan beramal untuk dirimu? Pasti ia memilih pilihan kedua..

Bahkan, seandainya ia disuruh memilih satu jam dengan waktu berjam-jam milik
orang lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih memilih waktu satu jam tersebut untuk dirinya.

Bahkan lagi, jika ia disuruh memilih antara satu kata yang mendapatkan pahala dengan hal-hal lain seperti telah aku jelaskan kepadamu, pasti ia lebih menyukai satu kata tersebut.
Periksalah dirimu hari ini! Lihatlah waktu! Agungkanlah kata! Hati-hatilah terhadap kerugian ketika Hari Kiamat telah tiba! Semoga Allah menjadikan nasihat ini bermanfaat bagiku dan bagimu. Semoga Allah memberi kita hasil yang baik.
Sumber : Buku Wasiat –wasiat Ulama terdahulu , Oleh Syaikh Salim l’ed Al-Hilali
hafidzahullah, Penerbit: Dar Ibnu
Jauzi. Cet. 2 1112 H/1991 M

 eramuslim.com


smg bermanfaat ^^
Read more ...»