Tausiyah untukmu, saudariku...

On Sunday, February 27, 2011 0 komentar


Ukhti…
Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho Tuhanmu, mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya zaman sekarang? Atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang diidamkan, bahkan bisa jadi kerudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan.

Ukhti…
Tertutupnya tubuhmu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi?? Bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu..

Ukhti…
Lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya kasihmu pada saudaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu??

Ukhti…
Lembutnya parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak Palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir.. Akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

Ukhti…
Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan ditemani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan dininabobokkan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

Ukhti…
Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang antum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan yaitu maksiat


Ukhti…
Cantiknya wajahmu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titipan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu..

Ukhti…
Tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk berani menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu..

Ukhti…
Tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamumu yang tertindas di palestina, pernahkah antum menangis ketika mujahid-mujahidah kecil tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya berjihad yang dilakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan..

Ukhti…
Lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat. Coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisnya islam dan iman mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berprilaku binatang yang tak karuan. Sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemuliaan Islam??

Ukhti…
Tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang Khaliqm.. Antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul dijaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba….


Ukhti…
Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah diraih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas diatas rata-rata akhwat yang lain, sesombong itukah hatimu, lalu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu

Ukhti…
Rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infaqmu ke mesjid atau mushola.. Sadarkah antum kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terliat kosong dan mengkhawatirka. Tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu.

Ukhti…
Rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah senin kamis yang antum laksanakan, kejujuran hati tidak bisa di bohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksankan tapi, semangat ruhani tanpa di sadari turun drastis, puasa yaumul bidh pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang dirasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum, makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi.

Ukhti…
Manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang yang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah

Ukhti…
Rajinnya shalat malammu (tidak menjamin) keistiqomahan seperti Rosulullah sebagai panutanmu..

Ukhti…
Ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang Kholiqmu,
Masihkah antum senang bermanjaan dengan Tuhanmu dengan shalat dhuhamu, shalat malammu??
Ukhti…
Dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi.
Akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid akan segara menghampirimu

Ukhti…
Masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik.
Jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu..

Ukhti…
Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga Rabbmu.
Maka tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu

Ukhti…
Muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang dilakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu.
Sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antum tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhlaq busukmu di lupakan, kenapa muhasabah tidak dijadikan sebagai moment untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang baik hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik

Ukhti…
Pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan past.
Bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin mencari istri yang solehah dan seorang mujahidah??
Kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah??

Ukhti…
Apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton TV yang tidak karuan dan hanya kan mengeraskan hati Sampai lupa waktu, lupa bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang birrul walidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan,
Mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah??

Ukhti…
Apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena merasa berkerudung besar??

Ukhti…
Hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi disamaratakan antara akhwat yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlaq maka akan merusak citra akhwat yang lain

Ukhti…
Dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan istri yang solehah,

Siapkah antum sekarang menjadi istri solehah yang selalu didamba-dambakan oleh semua orang???


Read more ...»

Hidup Ini Begitu Indah...

On Monday, February 14, 2011 3 komentar

Biarkan aku terus berusaha, namun jangan biarkan aku menyerah... 
Biarkan aku terus bersyukur, karena hidup ini begitu indah...

Maha suci Allah dengan segala kebesarannya. Patutlah kita bersyukur atas segala rahmat yang terus Allah berikan kepada kita... Karena di hari ini, kita masih dapat diberikan kesempatan untuk memulai hari-hari, mengerjakan kebaikan, menjalan semua yang ia perintahkan.

Saudaraku, pernah kah kau merasa menyesal. Begitu menyesal saat mengingat betapa banyak waktu yang engkau siakan. Betapa banyak maksiat yang engkau kerjakan... Jika ia, maka kita patut mensyukurinya, karena Allah masih MEMBUKA hati kita. Bersyukurlah karena hati kita masih dapat MERASAKAN indahnya HIDAYAH. 

Bersyukurlah, karena kita masih dapat merasakan PENYESALAN. Karena banyak, manusia yang lalai tanpa mereka sadar bahwa mereka telah lalai, lalai dengan segala bentuk syukur kita pada Allah, lalai dengan amanah, lalai dengan semua tugas kita sebagai khalifah di bumi Allah ini....

Maka pagi ini, saudaraku...
Bakarlah semangat-semangatmu. Tumbuhkan tunas-tunas semangat yang hampir layu. Rawatlah ia, peliharalah ia, hingga semangat itu semakin tumbuh dan berkembang dalam dirimu. Jadikanlah ia sebagai obor peneranga yang akan terus menyinari hari-harimu. Membuatmu terus bersyukur karena Allah masih memberi kita kesempatan...

Terkadang kita tidak menyadari Allah terus memberi kita kesempatan, kita baru akan menyadarinya ketika Allah memberikan musibah kepada kita. Saat kita sakit, kita mengingat Allah, mengingat segala bentuk KESEMPATAN yang Allah berikan sewaktu kita sehat. Sewaktu kita sehat, kita dapat melakukan segala aktivitas dengan lancar, namun apakah aktivitas itu kita lakukan untuk mencari keridhaan-Nya? Atau kita melakukannya atas dasar kebutuhan dan pemenuhan hidup kita?

Saudaraku yang kucintai karena Allah,
Aku pun manusia yang dhoif, terkadang hati ini terasa mati, mati karena kurang bersyukur kepada Allah. Bukankah Allah telah menjanjikannya, "Jika engkau bersyukur maka akan kutambahkan nikmatmu... Jika tidak, maka ketahuilah azabku sungguh pedih..."
Kita sebagai hambanya, sudah sepantasnya menyerah diri padanya, bersyukur kepadanya melalui lisan dan perbuatan kita... Mencegah perbuatan yang munkar, melakukan perbuatan yang ma'ruf. Menjalan semua aktivitas hanya karenanya.

Saudaraku, pernahkah kau merenungkan, bahwa semua yang Allah perintahkan semata-mata untuk kita sendiri. Allah menyuruh kita berbuat baik, membina hubungan dengan manusia, bukankah kita yang merasakannya? Jika kita berbuat baik kepada orang lain, bukankah orang tersebut akan berbuat baik pula kepada kita?
Allah melarang kita mencuri, itupun semata-mata untuk kebaikan kita. Jika kita mencuri, orang di sekitar kita tidak aakn merespect kita, bahkan jika kita ketahuan mencuri, mereka malah berbondong-bondong menyerang kita. Pun selain itu, jika kita mencuri, ada perasaan bersalah yang akan menghantui, seakan hati nuraini kita sendiri pun menolak perbuatan itu. Seakan diri ini pun melarang perbuatan itu.

Mungkin, itu hanya sebuah contoh kecil. Jika kita merenungkannya lebih dalam, akan semakin terlihat jelas bahwa semua KEBAIKAN yang kita lakukan semata-mata untuk kita dan segala KEBURUKAN pun pada akhirnya kita yang akan merasakan akibatnya.
Maka, hari ini saudaraku... Bersyukurlah kita masih diberikan kesempatan untuk memulai hari, merajut benang-benang kebaikan... Karena Hidup ini begitu INDAH...

Semoga kita dapat berkumpul di surga Allah yang jauh lebih indah dari bumi dan segala isinya...

Maha Suci Allah Tuhan Semesta Alam, yang masih memberikan kesemapatan padaku untuk memulai hari ini,
Bumi Allah, Senin, 14 Februari 2010. 07.25 A.M
  

Read more ...»

I also can be wrong...

On Thursday, December 23, 2010 2 komentar





KU pun bisa salah…

“Kenapa kemarin kau tak hadir?” Tanya Michiru pada Sayuri.
“Maaf Michiru, kemarin aku disuruh mama jaga rumah…” ucap Sayuri pelan.
“Umm, begitu ya… usahakan syuro selanjutnya datang ya…” ucap Michiru seraya tersenyum kecut lalu meninggalkan Sayuri.
Michiru masih kesal dengan kejadian kemarin saat syuro, dari segitu banyak panitia, yang hadir hanya tujuh orang ikhwan dan 6 orang akhwat. Saat ditanya, ada aja alasan mereka, yang disuruh jaga rumahlah, ada acaralah, ada leslah, dan lain sebagainya. Kadang Michiru merasa ingin berhenti saja dari jalan ini, ia merasa begitu letih, ia ingin beristirahat…
                                                                                                *****
Keesokkan harinya.
Islamic World tinggal sebulan lagi, tapi dana yang dibutuhkan masih belum mencukupi, Michiru selaku Ko’a kelabakan setengah mati mikirin gimana cara dapat uang dalam waktu singkat.
“Michiru, nanti syuro jam berapa?” Tanya Sayuri memecah lamunan Michiru.
“Owh… Eh, jam 2, laangsung habis pulang sekolah di perpus masjid…..” jelas Michiru.
“owh… makasih ya Michiru…”
Sayuri pun meninggalkan Michiru.

Tak terasa bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Michiru pun segera pergi ke perpus untuk syuro Islamic World. Namun sayangnya perpus masih kosong, tak ada satu orang pun disana. Sambil menunggu Michiru pun membaca buku Biologi, besok dia ulangan.
Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, akhirnya datang beberapa orang ikhwan, salah seorang diantaranya adalah Mizuno, Ko’i Islmic World.
“Afwan, di akhwat sudah berapa orang yang hadir?” Tanya Mizuno.
“Baru aku aja…” jawab Michiru singkat.
Tiga puluh menit pun berlalu. Syuro pun dimulai, yang hadir enam orang ikhwan dan enam orang akhwat.
Selama syuro Michiru kesal, “Kenapa semua seakan tak peduli dengan Islamic World, sebulan itu waktu yang singkat…” keluhnya.
Akhirnya syuro pun berakhir, dana yang kurang masih sebesar dua juta rupiah. Dan rencananya besok baik akhwat maupun ikhwan akan mencari sponsor lagi.
                                                                                                *****
Keesokkan harinya.
“Michiru, maaf kemarin aku tak bisa datang… kau tentu tahu kan, tadi ada ulangan Biologi, jadi kemari aku tak datang karena belajar buat ulangan tadi… maaf ya…” ucap Sayuri.
“Owh, …ya aku tahu. Lalu bagaimana? Kau bisa mengerjakannya?” Tanya Michiru.
“Ya…alhamdululillah…” jawab Sayuri seraya tersenyum.
Michiru tersenyum tipis, “ Alhamdulillah… maaf aku harus pergi” ucap Michiru lalu meninggalkan Sayuri.
Michiru berlari meujun taman sekolah, ia benar-benar kecewa pada Sayuri. Bagi Michiru, Sayuri sangatlah egois. Ia hanya memikirkan masalahnya saja dan tak sedikit pun memikirkan Islamic World.
“Kalau Sayuri bisa melakukan itu? Kenapa aku tidak? Aku ingin berhenti dari semua ini, aku sangat letih…” isak Michiru, air matanya kini telah berderai membasahi pipinya.
“Kenapa? Kenapa seakan tak ada yang peduli dengan Islamic World?”
“Hmmm begitukah?”
Michiru menghapus air matanya lalu memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut. Ternyata itu suara Taku, salah seorang ikhwan panitia Islamic World.
“Haah… tak kusangka kau berpikir seperti itu, Michiru…” keluhnya.
“Apa maksudmu Taku?” ucap Michiru marah, ia cukup tersinggung dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Taku.
“Yaahh… kalau ko’anya saja bicara seperti itu, bagaimana dengan jundinya? Haah…bagaimana ya nasib Islamic World… masa gagal?”
“Jaga bicaramu Taku! Takkan kubiarkan Islamic World gagal, Islamic World adalah salah satu sarana untuk kita berdakwah. Takkan kubiarkan gagal,” jawab  Michiru.
“Begitukah? Bukankah kau telah lelah? Bukankah kau sendiri yang bilang kau ingin beristirahat? Kau tak lupa dengan kata-katamu barusan kan?” Tanya Taku dengan suara keras.
Michiru diam, tak bisa membalas kata-kata Taku.
“Kenapa kau diam?“ tanyanya lagi.
“Aku…aku… aku …” Michiru tak melanjutkan kata-katanya.
“Haah… sudahlah…”
“Ah, satu lagi Michiru, apa kau terus merasa hanya kau yang memikirkan Islamic World?”
Sekilas Michiru memandang Taku, wajahnya benar-benar seram, Michiru tahu Taku sedang marah. Dan ini yang pertama kali Michiru melihat Taku marah. Selama ini, Taku hanya diam saat syuro,  ia seakan tak peduli dengan apapun yang terjadi saat syuro.

“Hei, aku bertanya padamu. Apa kau mendengar?”
“Aah… ya. Kadang aku merasa hanya aku yang memikirkan Islamic World…”
Taku memandang Michiru sinis, “Lalu apa yang telah kau lakukan untuk Islamic World?” Tanyanya lagi.
Michiru hanya diam, tak menjawab. Ia terkejut dengan pertanyaan Taku, ia sadar  ia tak melakukan apa-apa untuk Islamic World. Selama ini ia hanya terus berkomentar dan menilai apa yang telah teman-temannya lakukan untuk Islamic World. Padahal ia sendiri pun belum melakukan sesuatu yang berarti untuk Islamic World.

“Maafkan aku, aku memang tak melakukan apapun yang berarti untuk Islamic World. Selama ini aku hanya…hiks..hiks…” Michiru tak sanggup melanjutkan kata-katanya, ia tak kuat menahan air matanya.
“Haah dasar wanita. Ini…” keluh Taku seraya menyodorkan sapu tangannya.
Michiru mengambil sapu tangan itu, ia pun menghapus air matanya.
“Jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Jujur aku sangat marah ketika kau bilang tak ada yang memikirkan Islamic World. Semua panitia pasti memikirkannya, kita semua juga tak mau Islamic World gagal…”
Michiru menganggukkan kepalanya, “Maafkan aku…”
“Ahh… sudahlah…” seru Taku seraya berbalik.
“Kau tak usah khawatir, Islamic World takkan gagal…” lanjutnya.
Michiru mengangkat pandangannya.  Ia melihat Taku tersenyum tipis, seraya memamerkan sesuatu di tangannya. Michiru menatapnya tak percaya…
“Sponsorship…?” seru Michiru.
“Begitulah…” jawab Taku lalu berbalik meninggalkan Michiru…
Michiru menghapus sisa air mata di pipinya,  perlahan ia menatap sapu tangan di tangannya, tersenyum senang.
“ありがとうございますたく。。。”
Read more ...»

IKHWAN VERSUS AKHWAT (BATTLE ROYALE )

On 0 komentar




IKHWAN VERSUS AKHWAT (BATTLE ROYALE )

Michiru kelas 2 SMA

“Ahh, menyebalkan!!! Kenapa sih ikhwan tuh selalu menyebalkan!!!” teriak Michiru kesal seraya menjatuhkan diri ke tempat tidurnya.
“Ahh… tidak semua kok…” jawab seseorang tiba-tiba.
Michiru menoleh ke arah suara tersebut, “ Kak Takuto…”
Takuto hanya tersenyum melihat tingkah adik kesayangannya itu ( lha emang Cuma adik satu2nya kok ).
“Kakak, aku benci ikhwan!!!” ucap Michiru kesal.
“Lho? Aku kan juga ikhawan , apa kau juga membenciku, Michiru?” goda Takuto seraya membelai lembut Michiru.
“Ahh, kakak. Kau pengecualian…  Aku benci ikhwan di sekolahku, mereka menyebalkan! Main perintah-perintah, sok tegas, bawel, trus pasti usulan mereka yang selalu dipake, usulan akhwat Cuma kaya formalitas aja, ntar juga ujung-ujungnya yang dipake juga usulannya mereka. Nyebelinkan, kak?”
Takuto hanya menggelengkan kepalanya, “Yah… kalau dari ceritamu sih, mereka memang sangat menyebalkan…”

“Tuh kan, kakak yang sama-sama ikhwan aja bilang mereka menyebalkan…” Ucap Michiru senang.
“Memangnya mereka begitu menyebalkan ya?”
“Iya kak. Temen-temen akhwat aku aja banyak yang dibuat nangis… Ugh, kalo aku ga dosa nyentuh mereka, aku pasti udah nonjok-nonjok mereka, biar tahu rasa mereka!”
“Wew, galak banget nih adikku. Eh, tunggu dibuat nangis? Maksudnya apa nih, Michiru? Kau juga sampai dibuat menangis?”
“Iya, gara-gara omongan mereka nyakitin kak, umm aku pernah juga sih kak, tapi itu yang terakhir! Amit-amit deh nangis gara-gara ikhawan yang “gajebo” gitu.”
Lagi-lagi Takuto hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkankan kepalanya.
“Michiru, kau tahu... Dulu saat aku SMA, aku juga sangat benci sama akhwat.”
“Ehh, kok kakak jadi pro ikhwan sih….” Ucap Michiru kesal.
“Lha? Karena aku kan ikhwan. Dulu aku kesal karena akhwat tuh suka membingungkan, kalo salah ngomong nanti tersinggung, terus mereka tuh cenderung ga mau disalahin…”
“Ahh, kak Takuto nyebelin….” Ucap Michiru seraya memukul-mukul Takuto.
“Hei-hei, dengar dulu… Kejadian seperti ini memang sering terjadi, Ikhawan kesal sama akhwat dan begitu pun sebaliknya. Kau tahu kenapa?”

Michiru menggelengkan kepalanya sambil cemberut (masih kesal karena Takuto pro-ikhwan )
“Itu karena mereka tak saling mengerti… Ikhwan ga ngerti gimana cara memperlakukan akhwat. Dan akhwat juga ga ngerti maksud sikap ikhwan. Harusnya ikhwan belajar gimana cara bicara yang baik biar akhwat g tersinggung, dan akhwat pun harusnya bisa memaklumi kalau ikhwan cenderung bicara “ceplas-ceplos” dan terdengar agak kasar di telinga akhwat…”

Michiru memandang Takuto ( masih dalam keadaan cemberut ).
“Kau tentu tahu sifat dasar ikhwan dan akhwat kan? Dan ada banyak sekali perbedaan di dalamnya. Manusia pun diciptakan dalam keadaan yang berbeda-beda, tapi Allah menciptakan itu bukan untuk mereka saling membenci dan bermusuhan, sebaliknya Allah menciptakan itu agar mereka saling mengenal. Begitu pun akhwat dan ikhwan, jangan jadikan perbedaan itu untuk saling menjatuhkan, jadikanlah perbedaan itu untuk saling melengkapi. Rohis takkan mampu berdiri jika hanya dengan kekuatan ikhwan,  dan Rohis juga takkan mampu berdiri hanya dengan kelembutan  akhwat , Rohis hanya dapat berdiri dengan perpaduan dari keduanya. Rohis dapat berdiri jika akhwat dan ikhwan saling bekerja sama di dalamnya,”ucap Takuto panjang lebar.

“Kakak… “ ucap Michiru seraya memeluk Takuto.
Takuto membelai lembut Michiru, “Jadi, mulai sekarang kau harus lebih bisa memahami karakter ikhwan ya, Michiru… dan jangan katakana aku benci ikhwan lagi…”
Michiru menganggukkan kepalanya seraya melepas pelukkannya.
“Kau tahu kenapa?” Tanya Takuto seraya menyentuh hidung Michiru  dan mengeluarkan senyum jahilnya.
Michiru “polos” hanya menggelengkan kepalanya
“Karena bisa jadi, saat ini ada ikhwan yang sedang berteriak-teriak dan mengatakan aku benci akhwat. Hahahaha….” Jawab Takuto sambil tertawa.
“Ahh, kak Takuto menyebalkan…..”

Begitulah, saat ini memang banyak kejadian akhwat benci ikhwan dan sebaliknya (ya walau ga menutup kemungkinan akhwat suka ikhwan dan sebaliknya juga sih… )
Makanya, saudariku, kita sebagai akhwat jangan hanya bisa bilang ikhwan itu nyebelin ( ya, walau kenyataan sih… ) ada baiknya jika kita juga introspeksi diri, siapa tahu malah kita yang nyebelin (wkwkwkwkwk…). Pokoknya jangan berantem aja deh pesenku, dan jangan sampe gara-gara saling benci (jadi cinta… ya GA Lah! ) amanah kalian jadi terbelengkalai, ga mau koordinasi lagia atau apalah. Jangan sampe acara jadi ancur Cuma gara-gara “Bt-bt” an…
Ok ???
^____^  Semangat terus!!! Jangan lupa saling mendoakan ( Doakan aku juga LHO! )
Love u always coz ALLAH…
Read more ...»

I Love You, but I prefer Allah than You...

On Tuesday, December 21, 2010 2 komentar

I love you, but I prefer Allah than you...
I just hope we'll meet again in the future, and it will be our best moment
For you and me...

Untuk saudariku yang dirahmati Allah,
Semoga kisah sederhana ini bisa bermanfaat untuk kita…

Michiru, kelas 2 SMA
Saat ini Michiru tengah duduk di bangku kelas 2, “Alhamdulillah”nya Michiru masuk kelas IPA. Di tengah kesibukan belajar pelajaran  IPA, Michiru mendapat amanah yang cukup besar di Rohis sekolahnya. Bahkan kadang ia harus merelakan waktu bermain dan beristrirahtnya berkurang karena amanah tersebut. Mulanya Michiru melakukannya dengan ikhlas, namun lama-kelamaan Michiru mulai merasa bosan dan ingin menghindar dari amanah tersebut!

Pagi di sekolah…
“Assalammualaikum Michiru…” sapa lembut Hana (ini Ko’a rohis)
“Wassalammualaikum, ada apa Hana? Tumben kamu nyapa2 aku ?”
“Ahh, Michiru… kau ini… Aku Cuma pengen ngingetin kamu, natr pulang sekolah ada syuro TA ya di perpus… Oh iya, jangan lupa kasih tahu yang lain ya…”
“Hemmm…” ucap Michiru sambil berlalu.

Ahh, syuro mulu nih… besok ka nada ulangan Biologi. Mana aku ga ngerti sama bab itu, apalagi Haruka sensei kalo bikin soal ga tanggung2. Susah, banyak  dan ada essainya lagi… Ummm, gpp kali ya kalo bolos syuro sekali…
Dan akhirnya hari itu, Michiru “cabut” dari syuro tanpa ijin dari Hana, si Ko’a.

Esoknya…
“Michiru, kenapa kemarin kamu ga dateng?”
“Ummm, Kemaren aku belajar. Hari ini ada ulangan Biologi. Afwan ya…”
“Owh gitu… iya aku ngerti kok, tapi hari ini bisa dateng kan? Hari ini akan ngebahas acara soalnya…”
“Ummm… liat nanti deh Hana…” Michiru pun meninggalkan Hana.
BT! Kemarin syuro, hari ini syuro, ahhh besok pasti syuro lagi! Kenapa sih ga ada libur… Doyan bgt sih sama syuro…
Tapi, pada akhirnya Michiru tetep dateng syuro hari ini. Yah walau selama syuro dia amlah baca komik yang dipinjemin ma Kazuya. Akhirnya syuro pun selesai jam 17.00
“Afwan akh…ukh… Berhubung hari ini acaranya belum fix, jadi Insya Allah syuro akan dilanjutka di hari Sabtu, jam 09.00 di perpus…” ucap Takagi ( Ko’I Rohis )
Ahh, Sabtu? Itu kan libur… masa mesti dateng juga sih…. Ahh BT bgt sih. Ngapain sih si Takagi nyuruh-nyuruh dateng, kenapa g dia aja yang syuro ma si Hana. Mereka kan yang Pj. Acara…

Selama beberapa hari Michiru makin uring-uringan, ia merasa amanahnya sangat memberatkannya. Ia benar –benar sedang diuji, bukan Cuma dengan amanah, namun dengan hati.
Ya, Michiru memang sedang “Fall in Love like a comic” sama seorang pria di sekolahnya. Namnya Kazuya, yup mereka memang cukup akrab karena sama2 suka anime. Untunglah  Michiru masih tahu adab2 ikhwan dan akhwat, jadi mereka  g pernah saling menatap n bersentuhan. Tapi tetep aja, Michiru sering ngebayangin si Kazuya. (Lha, sama aja boong kan…)
Sabtu pun tiba, Michiru akhirnya memutuskan untuk datang ( ga enak ma Hana ) lagian dia juga g ada acara. Dan satu alasan terbesar hari ini ada acara di sekolah dan kemarin Kazuya bilang dia mau datang (Ckkckckck).
Syuro pun berakhir jam 12.00
Setelah sholat dzuhur Michiru pun meninggalkan masjid.
Mana ya Kazuya… kok dari tadi tidak keliatan ( lah gmn mw ketemu Michiru aja dari tadi Syuro ) Ahh, aku kelamaan syuro sih… jangan-jangan Kazuya udah pulang lagi… ahhh bt bgt sih…

“Hei, Mencariku ya… ?”
Michiru menoleh mencari sumber suara tersebut, “Kazuya…”
“Hehehehe, kau syuro lama sekali. Emang ngapain aja sih? Aku hampir aja mau pulang…”
“Tahu tuh. Biasalah, Tahu kan Takagi kalo udah ngomong ga berenti2. Intronya aja lama… apalagi intinya… Dasar, kalau kau sampai pulang, aku takkan memaafkanmu… “
“Nih komik yang kujanjikan, sudah terbit…”
“Wew, makasih ya Kazuya…” ucap Michiru seraya tersenyum.
“Sudah  dapat komik. Saatnya untuk pulang! Aku pulang dulu ya, Kazuya…” ucap Michiru seraya membalikkan badannya.
“Ah, tunggu. Ada yang ingin kubicara kan…” ucap Kazuya.
Michiru membalikkan badannya, “Umm, baiklah… Ada apa?”
“Michiru… Aku… Aku suka padamu…” ucap Kazuya pelan.
Michiru memandang Kazuya tak percaya, selama ini ia memang menyukai Kazuya,namun ia sama sekali tak menyangka kalau Kazuya pun meyukainya, bahkan sampai menyatakan perasaannya…

“Aku…aku…”
“Tak perlu kau jawab, Michiru… Aku hanya ingin menyatakannya. Aku tak membutuhkan jawabmu…”
Mereka pun lama terdiam. Akhirnya keduanya berpisah tanpa mengatakan apa-apa.
Di rumah, Michiru benar-benar kepikiran Kazuya. Ia tahu ini salah namun ia tak memungkiri perasaannya terhadap Kazuya.
Tiba-tiba handphone Michiru berbunyi, lagu  Kanashimi wo Kitto mengalun indah membuyarkan lamuyannya. Ia pun membuka sms tersebut, sms dari Kakak Mentornya…

Kalaulah ada seribu pembangun, dihadapi oleh seorang penghancur…Cukuplah sudah.
Namun, bagaimana jika ada seribu penghancur, dihadapi hanya oleh satu pembangun?
Tentu yang satu orang itu, haruslah menjadi seorang yang teramat tangguh dan pandai, yang pantang menyerah sampai prinsip berhasi ditegakkan…
Kita mesti seperti ITU… Semoga Allah senantiasa memberikan jalan kepada kita untuk terus memperbaiki diri, Semangat terus adikku… Ganbatte!!!
Love u coz Allah…

Michiru pun tersadar, selama ini ia telah khilaf… Ia pun berniat untuk tobat dan memperbaiki semua kesalahannya…
“ Aku ini memang manusia, Namun aku juga seorang Da’iah!!!” ucapnya seraya tersenyum.
Tak ada lagi alasan untuk lemah, untuk berenti dari amanah… Meski ia hanya seorang manusia, namun ia juga seorang Da’iah….
Michiru mengambil handphonenya, lalu mengetik sms :

Kazuya, Maafkan aku…
Aku tak mungkin menerima perasaanmu, walau jujur aku pun merasakan hal sama seperti yang kau rasakan padaku. Namun, aku tahu ini sama sekali tidak benar! Dan ini bukanlah waktu yang tepat!
Kuharap kau bisa mengerti, karena saat ini di hatiku hanya ada Allah dan selamanya tetap hanya untuk Allah… 
Saat ini lebih baik kita terus memperbaiki diri, bukankah kita tidak tahu kapan Allah kan mengambil nyawa ini?
Kazuya,
Jika kita berjodoh, Insya Allah, Allah kan mempertemukan kita kembali, namun di waktu yang lebih tepat…


Ia pun mengirim sms tersebut dan berjanji ia akan terus memperbaiki diri…

Semangat terus saudariku…
Janganlah kita menyerah sampai syariat Islam berhasil ditegakkan…
Dan janganlah berpikir kalau kita ini hanyalah manusia, sehingga itu menjadi alasan untuk kita mundur dari jalan ini… Kita memang hanya manusia, namun kita pun seorang da’i. bukankah kita berkewajiban menyampai walau hanya satu ayat?
Lalu apa jadinya jika kita menyampaikan, namu kita juga masih melakukan hal-hal yg dibenci Allah?
Semoga Allah senantiasa merahmati kita, dan senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita…
Amin…
Read more ...»

Saat ku Merindukan Sang Cahaya...

On Tuesday, December 14, 2010 0 komentar

mengalun, bagai untaian nada-nada indah
terpilin, mengudara ke angkasa luas…
bagai bait-bait do’a yang begitu tulus terucap dari seorang hamba yang tersungkur khusu’ di depan Rabb nya…
mengalir, bagai riak-riak air
terukir, menembus bebatuan keras…
bagai kata-kata yang menghujam tajam, menembus relung hati yang kini telah kembali bersinar…
secercah cahaya kembali menyala,
setelah kegelapan abadi menutupi akal sehat serta logika.
setelah semua hanya mengabdi pada syahwat semata…
kini sang cahaya telah datang,
menyebar sinar kehidupan…
menyehatkan akal dan pikiran…
meluruskan jalan-jalan yang hanya menuju kehancuran…
ya, sang cahaya itu telah merubah semuanya…
menuntun kita semua,
menerangi hati-hati kita dengan cahaya terindah, cahaya iman…
serta meninggalkan warisan terbaik, ilmu…
ilmu yang terus mengalir, berulang dan takkan lenyap dari bumi ini…
ilmu yang terus menuntun hati ini, agar tak berpaling lagi…
ilmu yang terus menuntun hati ini, agar tetap berada di jalan ini….
Read more ...»

Dan kau kini semakin cantik, saudariku...

On 0 komentar

I still remember bout you, and Im affraid if always remember all bout you…
Angin sore menerpanya, dalam segala kebimbangan yang nyata. Terlarut dalam canda, terbuai pada kasih semu yang menjerumuskan hati.
Namun, beruntunglah ia, karena Allah masih menyayanginya… Ia masih memberikannya kesempatan untuk kembali merasa fitrah yang semestinya…
Angin sore berhembus pelan, menembus relung hatinya, sesaat kemudian Setetes air mata penyesalan berlinang di pipinya. Hatinya menjerit, merasa sakit, perih… tapi tenanglah itu hanya sementara…
Beruntunglah kau, masih mendapat kesempatan ini…
Beruntunglah kau, yang masih mendapat petunjuk…
Beruntunglah kau, karena memilih jalan ini…
Beruntunglah kau, karena masih dapat kembali ke jalan ini…
Wahai kau yang air matamu kini lebih indah dari berlian,
Wahai kau yang kini matamu lebih indah dari permata dunia…
Wahai kau yang kini bersimpuh dalam tangis sujud panjangmu,
Beruntunglah engkau saudariku…
Sungguh engkau teramat sangat beruntung…
Janganlah kau pernah ragu,
Karena kau tak memilih jalan yang salah,
Janganlah menyesal, karena kau sungguh teramat sangat beruntung…
Janganlah bersedih, karena Allah menyukai ini…
Dan Allah menyukai permulaan ini…
Tersenyumlah saudariku.
Dan seharusnya kau tahu, kini kau lebih cantik dibandingkan seorang bidadari….
Read more ...»